Kamis, 26 Desember 2013

Tugas Ke3 Ilmu Budaya Dasar

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
       
             “KEBUDAYAAN DAN UPACARA ADAT KEMATIAN DI INDONESIA”







NAMA : NOUFAL RAMADHAN
NPM : 36413503
KELAS : 1ID06



FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA




Mata Kuliah  :  Ilmu Budaya Dasar
Dosen : Apipudin S.Th.I.,MA.Hum






KATA PENGANTAR

       
         Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa saya penulis panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya yang insyaallah setia sampai akhir jaman. Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Ilmu Budaya Dasar. Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, saya telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan harapan, walaupun di dalam pembuatannya saya menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki.

         Oleh sebab itu pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bapak Apipudin selaku dosen pembimbing Ilmu Budaya Dasar. Saya yakin dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca karena makalah ini cukup baik dan lengkap. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi saya dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.


Jakarta, 20 November 2013


                                                                                                   Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
      Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan sebuah daya tarik tersendiri yang membedakannya dengan negara lain. Hal ini merupakan warisan turun temurun dari para leluhur yang memiliki begitu banyak nilai-nilai didalamnya. Keragaman budaya yang ada di Indonesia telah melahirkan pula keragaman wujud-wujud kebudayaan. Diantaranya adalah adat istiadat, upacara-upacara adat dan juga tradisi yang masih tetap dilestarikan oleh etnik-etnik di Indonesia. Bentuk-bentuk adat istiadat dan tradisi ini sebagai salah satu contohnya adalah upacara kematian. Tradisi memang memiliki banyak nilai sehingga tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia.
       
      Manusia tetap melaksanakan tradisi dalam hidup dan kehidupannya, hal ini juga dikarenakan peran para leluhur yang mewariskannya dari generasi ke generasi. Berawal dari ketertarikan terhadap banyaknya jenis upacara adat kematian di Indonesia yang menjadi tradisi yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan. Tradisi upacara kematian juga dilakukan oleh etnik lainnya yang sebagian besar bertujuan untuk penyucian atma atau roh seseorang yang telah meninggal.

1.2 Rumusan Masalah
   1. Apa pengertian kebudayaan?
   2. Apa pengertian upacara adat kematian?
   3. Bagaimana upacara adat kematian di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
    1. Memenuhi tugas mata kuliah Ilmbu Budaya Dasar
    2. Mengetahui pengertian kebudayaan
    3. Mengetahui pengertian upacara adat kematian
    4.  Mengetahui upacara adat kematian di Indonesia
1.4 Sistematika Penulisan
       Makalah ini terdiri dari tiga bab, diawali bab I pendahuluan dan diakhiri bab III penutup.
Bab I Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan berisikan mengenai upacara adat kematian di Indonesia.
Bab III Penutup merupakan bab terakhir berisikan kesimpulan.


BAB II
KEBUDAYAAN DAN UPACARA ADAT KEMATIAN DI INDONESIA

2.1 Pengertian Kebudayaan
    Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Kebudayaan merupakan sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang di yakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia.
   
     Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang di punyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat dimana dia hidup. Dalam kehidupan sosial warga masyarakat selalu mewujudkan kelakuan tertentu sesuai dengan ketentuan yang ada atau hal yang sedang di hadapinya. Kebudayaan menghasilkan kelakuan dan benda-benda kebudayaan tertentu. Setiap kebudayaan terdiri atas serangkaian petunjuk-petunjuk untuk mengatur, menyeleksi, dan merangkaikan simbol-simbol yang diperlukan, sehingga simbol-simbol yang telah terseleksi itu secara bersama-sama dan diatur sedemikian rupa diwujudkan dalam bentuk kelakuan atau benda-benda kebudayaan sebagaimana diinginkan oleh pelakunya. Kebudayaan berisikan pengetahuan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai sesuatu dengan sebaik-baiknya, berbagai ukuran untuk menilai berbagai tujuan hidup dan menentukan mana yang terlebih penting, berbagai cara untuk mengidentifikasi adanya bahaya-bahaya yang mengancam dan asalnya, serta bagaimana mengatasinya.

2.2 Pengertian Upacara Adat Kematian
     Upacara adat kematian merupakan sebuah kegiatan atau peringatan yang diselenggarakan ketika ada sesorang yang meninggal dunia. Upacara ini biasanya dilakukan oleh masyarakat yang masih kental akan tradisi kebudayaan dari generasi sebelumnya. Prosesi upacara ini dilaksanakan untuk menghormati roh nenek moyang.Upacara kematian berkembang di masyarakat biasanya didasari oleh adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan mereka. Upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, para dewa atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib. Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk mendapatkan kemurahan hati para dewa dan untuk menghindarkan diri dari kemarahan para dewa yang seringkali diwujudkan dengan berbagai malapetaka dan bencana alam. Ada kalanya upacara-upacara itu terkait dengan legenda yang berkembang di kalangan masyarakatnya tentang asal-usul keturunan mereka sehingga upacara itu juga sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka seperti yang tertuang dalam cerita rakyat itu. Sebelum pengeruh Hindu-Budha hadir, masyarakat kuno di nusantara telah mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme merupakan kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang yang mendiami  benda-benda seperti pohon, batu, sungai, gunung, senjata. Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan manusia dalam kehidupan. Kepercayaan animisme dan dinamisme erat berhubungan dengan alam kosmik, kekuatan alam sekitar dan roh leluhur. Dari kepercayaan inilah upacara ritual seperti upacara adat kematian lahir dalam kehidupan masyarakat. Upacara penguburan muncul karena keyakinan bahwa roh orang yang baru meninggal akan pergi dan berdiam di suatu tempat yang letaknya tak jauh dari lingkungan tempat ia tinggal semasa hidup. Upacara adat kematian ini dilaksanakan sangat sederhana. Dibalik kesederhanaan itu tersimpan makna yang dalam bahwa meskipun raga atau badan seseorang telah mati namun rohnya tetap hidup dan berada disekitar orang-orang terdekatnya. Jenazah biasanya disimpan di sebuah goa batu atau didalam peti batu. Didalam goa atau peti batu tersebut disimpan berbagai bekal untuk keperluan jenazah di alam gaib, biasanya berupa alat perhiasan. Hampir di setiap daerah di nusantara terdapat upacara adat kematian ini.

2.3 Upacara Adat Kematian Di Indonesia
    Negara Indonesia terdiri dari 33 provinsi yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan tentunya pasti memiliki banyak kebudayaan yang tersebar di setiap wilayahnya. Berikut ini merupakan contoh upacara adat kematian yang ada di Indonesia.

1. Ritual Tiwah
    Upacara tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan acara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke sandung yang sudah dibuat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal. Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa adalah hanya tinggal tulangnya saja. Ritual Tiwah bertujuan untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju lewu tatau(surga) sehingga bisa hidup damai dan tentram di alam Sang Kuasa. Tiwah suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas rutas kesialan bagi keluarga almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa. Melaksanakan upacara tiwah bukan pekerjaan mudah, diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Rangkaian prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lamanya. Ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya didalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah.
   
     Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Menurut kepercayaan agama Kaharingan, setelah kematian, orang yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke surga. Digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang sudah meninggal menuju bukit Malian, dan disana menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah. Puncak upacara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung. Sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakkan hewan-hewan kurban, kerbau, sapi dan babi. Bagi suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan(penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Upacara tiwah juga bertujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga.


2. Rambu Solo
    Upacara Adat Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja (upacara penyempurnaan kematian) untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan yang disebut Puya, di bagian selatan tempat tinggal manusia. Puncak acara ini disebut Upacara Rante serta acara lain seperti Adu Kerbau, Adu Kaki dan-lain-lain

     Upacara Adat Rambu Solo sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini lengkapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.

    Masyarakat setempat menganggap Upacara Adat Rambu Solo ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia.

    Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi.

     Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Upacara kematian ini disebut Rambu Solo’.
     Rambu Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. Menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

    Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
    
    Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
    
     Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau.  Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.


3. Upacara Brobosan
    Brobosan adalah berjalan di bawah keranda yang sedang ber­henti, yang dilakukan sebelum jenazah diberangkatkan ke makam. Brobosan ini dilakukan oleh anak cucunya. Anak cucunya melaku­kan secara bergantian, masing-masing mengulang sampai tiga kali. Dimulai dari sebelah kanan jenazah, berbalik atau berputar ke muka dan masuk lagi dari sisi kanan. Di desa ini ada kebiasaan, makin banyak kali brobosan, semakin baik, karena selain brobosan itu ber­maksud untuk menghormati yang meninggal, juga bermaksud untuk mendapatkan swab, atau tuah dari yang meninggal itu.
     Lebih-lebih kalau orang meninggal itu usianya panjang, akan berpengaruh ter­hadap usia yang menerobos itu. Jika yang meninggal itu orang yang kesdik, ilmunya dapat sumrambah, terserap oleh orang yang melaku­kan brobosan. Ada suatu kebiasaan juga bahwa jika yang meninggal itu seorang perempuan, yang melakukan brobosan itu terbatas pada sanak keluarga yang terdekat dengan almarhumah. Demikian juga jika yang meninggal itu anak-anak, atau remaja, brobosan itu tidak dilakukan.
     Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan rasa hormat dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.

Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut: 

1.      Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai, 
2.      Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka selama tiga kali dan searah jarum jam, 
3.      Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang. Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak keluarga yang masih hidup kepada orang tua dan leluhur mereka. Jadi, jika yang meninggal itu anak-anak, atau remaja, brobosan itu tidak dilakukan.

Menurut kepercayaan Jawa, setelah 1 tahun kematian, Arwah tersebut sudah memasuki dunia abadi untuk selamanya. Untuk memasuki dunia abadi, arwah harus menembuh jalan yang sangat panjang oleh sebab itu diadakan beberapa upacara untuk menemani perjalanan sang arwah.

4. Upacara Saur Matua
    Upacara kematian pada masyarakat Batak Toba merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan lain dibalik kehidupan di dunia ini. Adapun maksud dan tujuan masyarakat Batak Toba untuk mengadakan upacara kematian itu tentunya berlatar belakang kepercayaan tentang kehidupan .
    
    Saur matua adalah orang yang meninggal dunia telah beranak cucu baik darianak laki-laki maupun anak perempuan. Saur artinya lengkap/sempurna dalam kekerabatan, telah beranak cucu karena yang telah meninggal itu adalah sempurna dalam kekerabatan, maka harus dilaksanakan dengan sempurna. Lain halnya dengan orang yang meninggal sari matua. Suhut membuat acara adat sempurna sesuai dengan Adat Dalihan Na Tolu, hal seperti itu belum tentu dilakukan karena masih ada dari keturunannya belum sempurna dalam hal kekerabatan. Dalam melaksanakan sesuatu upacara harus melalui fase-fase (tahapan-tahapan) yang harus dilalui oleh setiap yang melaksanakannya. Sesampainya pihak suhut , hasuhutan, boru, dongan sabutuha, hula-hula di rumah duka, maka acara selanjutnya adalah makan bersama. Pada saat itulah kuda yang diborotkan tadi sudah dapat dilepaskan dan ternak (babi) yang khusus untuk makanan pesta atau upacara yang dibagikan kepada semua yang hadir. Pembagian jambar ini dipimpin langsung oleh pengetua adat. Terdapat berbagai variasi pada beberapa tempat yang ada pada masyarakat batak toba. Salah satu uraian yang diberikan dalam pembagian jambar ini adalah sebagai berikut:
-Kepala untuk tulang
-Telur untuk pangoli
-Somba-somba untuk bona tulang
-Satu tulang paha belakang untuk bona ni ari
-Satu tulang belakang lainnya untuk parbonaan
-Leher dan sekerat daging untuk boru

      Setelah pembagian jambar ini selesai dilaksanakan maka kepada setiap hulahula yang memberikan ulos karena meninggal saur matua orang tua ini, akan diberikan piso yang disebut “pasahatkhon piso-piso”, yaitu menyerahkan sejumlah uang kepada hula-hula, jumlahnya menurut kedudukan masing-masing dan keadaan.
   
   Bilamana seorang ibu yang meninggal saur matua maka diadakan mangungkap hombung (buha hombung), yang dilakukan oleh hula-hula dari ibu yang meninggal, biasanya dijalankan oleh amana posona (anak dari ito atau abang adik yang meninggal). Buha Hombung artinya membuka simpanan dari ibu yang meninggal. Hombung ialah suatu tempat tersembunyi dalam rumah, dimana seorang ibu biasanya menyimpan harta keluarga ; pusaka, perhiasan, emas dan uang.

     Harta kekayaan itu diminta oleh hula-hula sebagai kenang-kenangan, juga sebagai kesempatan terakhir untuk meminta sesuatu dari simpanan “borunya” setelah selesai mangungkap hombung, maka upacara ditutup oleh pengetua adat. Beberapa hari setelah selesai upacara kematian saur matua, hula-hula datang untuk mangapuli (memberikan penghiburan) kepada keluarga dari orang yang meninggal saur matua dengan membawa makanan berupa ikan mas. Yang bekerja menyedikan keperluan acara adalah pihak boru.

   Acara mangapuli dimulai dengan bernyanyi, berdoa, kata-kata penghiburan setelah itu dibalas (diapu) oleh suhut. Setelah acara ini selesai, maka selesailah pelaksanaan upacara kematian saur matua. Latar belakang dari pelaksanaan upacara kematian saur matua ini adalah karena faktor adat, yang harus dijalankan oleh para keturunan orang tua yang meninggal tersebut. Pelaksanaan upacara ini juga diwujudkan sebagai penghormatan kepada orang tua yang meninggal, dengan harapan agar orang tua tersebut dapat menghormati kelangsungan hidup dari para keturunannya yang sejahtera dan damai. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia yang masih hidup dengan para kerabatnya yang sudah meninggal masih ada hubungan ini juga menentukan hidup manusia itu di dunia dan di akhirat.

5. Ngaben
     Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah di Bali yang sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara karena keunikannya. Ngaben biasanya lazim disebut kremasi sebagai istilah umumnya. Sesungguhnya kremasi tak hanya dilakukan oleh umat Hindu, tapi oleh beberapa umat agama lain. Namun, hanya di Bali-lah ditemukan prosesi pembakaran jenazah yang begitu unik, semarak, megah, dan penuh kesenian. Tak ayal, pelaksanaan ngaben ini sering dipadati oleh wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung keunikan prosesi pembakaran jenazah unik satu-satunya di dunia ini.

   Ngaben sebenarnya adalah istilah yang biasa digunakan untuk golongan masyarakat umum seperti yang diatur dalam struktur sosial masyarakat adat Bali, sedangkan dari kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan prosesi itu disebut dengan Pelebon. Ngaben berasal dari kata ngabuin atau ngabu yang berarti menjadikan abu, sedangkan pelebon berasal dari kata pelebuan yang mempunyai arti sama, yaitu menjadikan abu. Upacara Ngaben dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui kelahiran kembali ataupun moksha (bersatu dengan Tuhan).

    Upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan lumayan besar, upacara memakan waktu yang cukup lama. Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad atau disebut layon sering dikebumikan terlebih dahulu menunggu biaya pengabenan tercukupi. Jika dihitung, pengabenan dengan mempergunakan metode ini cukup banyak memangkas biaya. Jika biaya ngaben perseorangan biasanya memakan biaya 15 – 25 juta rupiah, dengan melakukan pengabenan massal biaya per orang rata-rata tak lebih dari 5 juta rupiah dengan upacara yang lengkap. Namun bagi beberapa keluarga yang mampu secara finasial, upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, kemudian menunggu keputusan pemilihan hari baik menurut kalender Hindu Bali dan kesepakatan bersama keluarga serta pertimbangan dari Pedanda (Pendeta Hindu). Upacara ngaben yang tercatat paling megah dan memerlukan biaya paling mahal di Bali adalah upacara pelebon di keluarga Kerajaan Ubud yang diperkirakan memakan biaya hingga milyaran rupiah.

    Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan melihat kalender Bali yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu.” Bade dan lembu yang merupakan perlengkapan utama untuk pelaksanaan upacara ngaben dipersiapkan oleh tim yang dipimpin oleh seorang Undagi atau arsitek tradisional Bali. Bade adalah menara megah dengan atap bertingkat yang akan digunakan sebagai wadah peti layon menuju lokasi upacara yang terbuat dari kayu dan bambu yang dihias dengan motif warna-warni dari kertas yang diukir. Sedangkan lembu adalah wadah untuk peti layon pada saat dilaksanakannya upacara pembakaran. Seperti namanya, lembu berbentuk seperti seekor lembu. Namun, biasanya tak hanya bentuk lembu yang digunakan, bentuk lain seperti singa, padma, naga banda (digunakan khusus keturunan raja), dan lain sebagainya juga digunakan sesuai golongan atau kasta orang yang bersangkutan.

        Pada hari pelaksanaan upacara, sejak dini hari aktivitas di rumah persemayaman layon sudah banyak diwarnai dengan segala persiapan dan persembahyangan. Memasuki siang hari, biasanya segala persiapan sudah rampung dan mulai terdengar bunyi gamelan beleganjur yang penuh semangat seakan membawa suasana jauh dari duka. Kemudian, layon dikeluarkan dari ruang persemayaman untuk disiapkan di atas bade yang ada di jalan depan kediaman untuk diarak menuju lokasi upacara, yaitu setra atau kuburan desa.

   Prosesi arak-arakan terdiri dari barisan pemusik angklung, pembawa banten, para pande atau ahli tempa besi, gamelan balaganjur, kemudian diikuti barisan kerabat dan keluarga. Sebuah tradisi menghantarkan kematian seseorang yang meriah layaknya sebuah pesta rakyat yang digelar dengan suka cita. Barisan arak-arakan, membuat suasana menjadi meriah di sepanjang perjalanan menuju lokasi upacara ngaben. Pada saat menemui perempatan atau persimpangan jalan, bade dan lembu diarak berputar dari arah timur ke selatan atau dari kiri ke kanan sesuai dengan arah jarum jam sebanyak tiga kali (simbol utpti, stiti, pralina) sambil menyanyikan kidung-kidung sebagai simbol “peningkatan status” dengan harapan arwah orang yang meninggal mendapat tempat terbaik dan nantinya dapat bereinkarnasi menjadi manusia yang lebih baik.

     Sesampainya di tempat upacara, jasad ditaruh di punggung lembu yang diyakini sebagai kendaraan menuju nirwana. Prosesi pun dimulai dengan dipimpin oleh pendeta. Pada saat prosesi pembakaran seluruh keluarga pun berkumpul. Suasana terasa khidmat dengan disertai kidung pengantar yang terdengar sangat mengharukan. Tak jarang pada saat ini, banyak keluarga dari mendiang yang menitikkan air mata melepas kepergian orang yang dicintainya. Setelah semuanya menjadi abu, kemudian abu tersebut dilarung atau dihanyutkan ke laut atau jika jarak laut terlalu jauh dapat juga dilakukan di sungai yang pasti nantinya juga akan bermuara ke laut. Bagi umat Hindu Bali, laut merupakan simbol alam semesta yang menjadi pintu untuk memasuki rumah Tuhan. Selain itu, melarung abu orang yang telah meninggal ke laut juga bermaksud untuk mengembalikan tubuh duniawi yang terdiri dari lima unsur (air, panas, udara, ruang, tanah) ke asalnya yaitu alam semesta.

    Ngaben memang merupakan sebuah ritual yang sangat penting bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali meyakini bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan baru yang lebih baik, sehingga melepas kematian seseorang harus disertai dengan doa, kerelaan, serta suka cita untuk menghantarkan orang yang dicintai bebas dari ikatan keduniawian.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
     Upacara adat kematian merupakan upacara yang masih dilaksanakan atau diselenggarakan oleh sebagian masyarakat di Indonesia yang masih kental atau mengikuti tradisi dari zaman sebelumnya. Upacara ini biasanya bertujuan untuk menghantarkan roh atau nyawa seseorang yang telah meninggal agar bisa damai dan tentram menuju surga. Keterkaitan Upacara adat kematian dengan kebudayaan sangatlah erat, upacara adat kematian ini merupakan salah satu kebudayaan yang dimiliki di Indonesia yang sangat unik dan berbeda yang tidak di miliki oleh kebudayaan negara lain. Upacara adat ini semakin menambah keanekaragaman kebudayaan Indonesia masing-masing suku bangsa memiliki cara yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat kematian menjadi suatu pegangan dan tingkah laku hidup masyarakat sekitar dalam berperilaku secara sosial dengan masyarakat satu dengan yang lainnya. Adanya nilai-nilai yang menjadi batasan kehidupan masyarakat sekitar dalam bertingkah laku membuat kehidupan anggota masyarakat menjadi lebih tertata dan lebih teratur karena adanya aturan yang berlaku dalam lingkungan mereka baik aturan dari adat mereka sendiri yang sudah lama menjadi tatanan hidup mereka.

3.2 Saran
      Sebagai masyarakat Indonesia kita patut berbangga karena memiliki banyak keunikan kebudayaan di negeri ini, maka dari itu kita harus menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan Indonesia agar tidak terlupakan. Upacara adat ini juga sebaiknya mulai tidak terlalu sering dilaksanakan karena kemajuan di zaman sekarang dan juga kita sebaiknya harus lebih percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa mengenai upacara kematian seperti ini dan mulai meninggalkan kepercayaan kepada prinsip nenek moyang di zaman dahulu yang di tradisikan dari generasi ke generasi.

DAFTAR PUSTAKA
*afand.abatasa.co.id/post/detail/6923/
*forum.viva.co.id/social-dan-budaya/251440-tiwah-ritual-mensucikan-mayat-ala-suku-dayak.html
*visitsulawesi.info/index.php?option=com_content&view=article&id=73:upacara-adat-rambu-solo&catid=47:adat-istiadat&itemid=64
*www.aktual.co/warisanbudaya/203625ritual-upacara-kematian-suku-jawa
*www.gobatak.com/
*balitour.net/id/view/ngaben-upacara-kremasi-di-bali-yang-unik-dan-penuh-makna/

     

Senin, 25 November 2013

Tugas ke2 Ilmu Budaya Dasar


MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR









NAMA : NOUFAL RAMADHAN
NPM : 36413503
KELAS : 1ID06



FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA




Mata Kuliah  :  Ilmu Budaya Dasar
Dosen : Apipudin S.Th.I.,MA.Hum





KATA PENGANTAR

       
         Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa saya penulis panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya yang insyaallah setia sampai akhir jaman. Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Ilmu Budaya Dasar. Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, saya telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan harapan, walaupun di dalam pembuatannya saya menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki.

         Oleh sebab itu pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bapak Apipudin selaku dosen pembimbing Ilmu Budaya Dasar. Saya yakin dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca karena makalah ini cukup baik dan lengkap. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi saya dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.



Jakarta, 25 November 2013

                                                                                                     
                                                                                                                  Penulis






BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

           Semua orang tua sayang kepada anak-anaknya, mereka tidak mau anak-anaknya berkarakter buruk. Tetapi ada orang tua yang paling buruk yaitu yang berlebih-lebihan dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Sedangkan orang tua yang paling baik adalah yang bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempatnya yang tepat. Bagi pendidik sikap dan perilaku orang tua dalam memberikan kasih sayang pada anak-anaknya tersebut idealnya dipahami sehingga sekolah menjadi rumah kedua yang dapat memberikan kasih sayang.
              Pemahaman pendidik terhadap konsep kasih sayang mendasari sikap pendidik dalam menjalankan proses pendidikan sehingga anak didik dapat belajar dengan suasana penuh kehangatan dan menyenangkan. Begitu juga dengan kewibawaan yang dipandang sebagai alat pendidikan yang penting bagi pendidik dimana lemahnya kewibawaan pendidik akan berdampak pada proses pendidikan.
              Secara psikologis anak-anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Orang tua sebagai pembimbing awal anak-anak harus memperhatikan apakah kasih sayang yang diberikan kepada anak-anak, karena kasih sayang merupakan pilar dan fondasi dalam pendidikan. Ketika kasih sayang terpenuhi dengan baik maka akan terwujud ketenangan jiwa,
            Dalam proses pendidikan di sekolah, peran orang tua digantikan oleh pendidik. Pola hubungan mendidik perlu dilandasi oleh kasih sayang dari pendidik kepada peserta didik agar terjalin ikatan perasaan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Semua orang tua sayang kepada anak-anaknya, mereka tidak mau anak-anaknya berkarakter buruk. Ada orang tua yang paling buruk yaitu yang berlebih-lebihan dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, sedangkan orang tua yang paling baik adalah yang bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempatnya yang tepat. Bagi pendidik sikap dan perilaku orang tua dalam memberikan kasih sayang pada anak-anaknya tersebut idealnya dipahami sehingga sekolah menjadi rumah kedua yang dapat memberikan kasih sayang             
             
1.2 Rumusan Masalah

       Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari kasih sayang
2. Bagaimana cara pemberian kasih sayang
3. Bagaimana cara bersikap adil dalam memberikan kasih sayang
4. Bagaimana cara mengekspresikan kasih sayang
5. Bagaimana peran kasih sayang dalam pendidikan
6. Buatlah studi kasus dan penyelesaiannya dengan Ilmu Budaya dasar

1.3 Tujuan Penulisan

       Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:
1. Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
2. Mengetahui pengertian kasih sayang
3. Mengetahui cara pemberian kasih sayang
4. Mengetahui cara bersikap adil dalam memberikan kasih sayang
5. Mengetahui cara mengekspresikan kasih sayang
6. Mengetahui peran kasih sayang dalam pendidikan
7. Membuat dan mengetahui contoh studi kasus dan penyelesaiannya dengan Ilmu Budaya Dasar

1.4 Sistematika Penulisan

        Makalah ini terdiri dari tiga bab, diawali bab I pendahuluan dan diakhiri dengan  bab III kesimpulan.

Bab I Pendahuluan meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan                   
penulisan,  dan sistematika penulisan.
            Bab II Pembahasan berisikan mengenai sikap kasih sayang
            Bab III Penutup merupakan bab terakhir berisikan kesimpulan.


















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kasih Sayang
           Kasih sayang adalah pola hubungan yang unik diantara dua orang manusia atau lebih. Kasih sayang adalah kebutuhan asasi setiap orang. Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang, akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan kuat. Kasih sayang mempengaruhi kesehatan fisik. Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang orang tuanya, tubuhnya lebih sehat dari anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang.
            Kasih sayang juga akan menyelamatkan anak-anak dari sifat kerdil. Anak-anak yang kurang atau tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya akan tumbuh sebagai anak yang merasa terkucilkan. Anak tersebut akan membenci orang tua, orang lain dan kemungkinan besar akan menjadi anak-anak yang suka melakukan hal-hal yang berbahaya. Dalam proses pendidikan di sekolah yaitu peran orang tua digantikan oleh pendidik, pola hubungan mendidik perlu dilandasi oleh kasih sayang dari pendidik kepada peserta didik agar terjalin ikatan perasaan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan
            Kasih sayang memiliki peranan yang penting dalam pengembangan ruh dan
keseimbangan jiwa anak-anak. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang dapat
menimbulkan kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga
yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia,
senang mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat.
           Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada
seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan.
Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta, percintaan pria-wanita bila diakhiri
dengan perkawinan maka didalam berumah tangga keluarga itu bukan lagi bercinta-cintaan
tetapi sudah bersifat mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang. Dalam kasih sayang
sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut untuk tangung jawab, pengorbanan,
kejujuruan, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, seingga kuduanya merupakan
kesatuan yang bulat dan utuh. Adanya kasih sayang ini mempengaruhi kehidupan si anak
dalam masyarakat. Orang tua dalam memberikan kasih sayang bermacam-macam demikian
pula sebaliknya.
             Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. Orang tua
adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, hal ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya. Orang tua juga  merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan
memberikan kasih sayang secara mendalam.
              Ayah dan ibu secara ideal sudah seharusnya dapat melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dalam menjaga dan mendidik anaknya. Keluarga mempunyai fungsi tertentu, oleh sebab itu  keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mempengaruhi 2
kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal perkembanganya, selain ayah yang paling berperan sebagai pendidik anak-anak adalah ibu.  Arti seorang anak adalah karunia dari Allah SWT yang dititipkan dan merupakan tanggung jawab sepenuhnya kedua orang tua terutama ibu, memiliki tanggung jawab yang memberikan pendidikan dan kasih sayang terhadap anaknya. Ibu merupakan figur yang memiliki peran penting dalam perkembangan di usia dini. Apabila kasih sayang dan pendidikan Ibu tidak diberikan merata akan berdampak buruk terhadap anak dapat mempengaruhi emosinya.







2.2 Pemberian Kasih Sayang
Dari cara pemberian kasih sayang dapat dibedakan :

1) Orang tua aktif, si anak pasif

         Dalam hal ini orang tua memberikan kasih sayang terhadap anaknya baik dalam moral

materil dengan sebanyak-sebanyaknya, dan si anak menerima saja tanpa memberikan respon

2) Orang tua pasif, si anak aktif

        Dalam hal ini si anak memberikan kasih sayang yang berlebihan kepada orangtuanya,

kasih sayang ini diberikan secara sepihak, orang tua mendiamkan saja tingkah laku si anak
tidak memberikan perhatian apapun.

3) Orang tua pasif, si anak pasif
        Disini jelas bahwa masing-masing membawa hidupnya sendiri-sendiri, tanpa saling

memperhatikan. Kehiduan keluarga sangat dingin tidak ada kasih sayang masing-masing
membawa caranya sendiri, tidak ada tegur sapa bila tidak perlu dan orang tua hanya
memberikan materi saja.

4) Orang tua aktif, si anak aktif


         Dalam hal ini orangtua dan anak saling memberikan kasih sayang dengan sebanyak-

banyaknya. Sehingga hubungan antara orangtua dan anak sangat baik dan harmonis, kasih

sayang ini sangat nampak sekali dan membuat suasana dalam keluarga menjadi terasa

nyaman, tentram, terasa kehidupan dan terjalin komunikasi yang baik antara si anak dan

orang tua.
          
Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang
baik atau mengerti kesulitan orang lain. Untuk memiliki anak dengan sifat tersebut, ternyata
membutuhkan waktu dan pendidikan dari orangtua. Tidak mudah memang mengajarkan anak
mengerti pentingnya berbagi terhadap sesama, kecuali dengan pelatihan dan pendidikan yang
dilakukan terus-menerus di rumah dan lingkungan terdekat.

            Langkah awal yang harus ditanamkan orangtua adalah memberikan pengertian
tentang dasar dari kasih sayang. Seperti menggambarkan kepada mereka bahwa kasih sayang
itu adalah rasa peduli terhadap sesama.



Dapat Dilatih

     Sikap sayang sesama dapat dilatih kepada anak dengan cara, misalnya, memberi tahu anak
bagaimana harus bersikap saat berteman. Mereka juga harus diajarkan untuk mengutarakan
perasaan dengan kata-kata. Bagi anak, hal itu sangat penting karena saat anak-anak segala
sesuatu ingin diketahui.

      Langkah lain yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan penguatan positif pada
perilaku sayang. Kebanyakan orangtua hanya memerhatikan anak ketika melakukan
hal baik dan tidak baik. Anak berperilaku tidak baik karena anak merindukan perhatian.
Orang tua menyatakan penghargaan dan sayang anda saat anak berperilaku sayang,
maka dia akan lebih sering menunjukkan perilaku sayang.

      Ini bertujuan untuk melatih anak agar lebih positif dalam bertindak dan bersikap.  
Kasih sayang yang diajarkan kepada mereka, anak-anak akan mengerti kesulitan orang lain.
Hal lain yang harus diajarkan orangtua kepada anak,  adalah  mengajarkan mereka untuk
menolak perilaku yang bertentangan dengan kasih sayang. Anak-anak perlu belajar apa yang
dapat atau tidak diterima untuk mencapai keinginannya. Untuk mendapatkan
keinginannya seorang anak menyakiti atau merugikan orang lain, hal ini bertentangan dengan
kasih sayang. Orangtua perlu menjelaskan menyakiti orang lain adalah cara yang salah.




Dengan Memberi

     Langkah-langkah awal yang harus ditanamkan orangtua untuk menanamkan dan
membangun munculnya rasa sayang terhadap sesama, adalah dimulai
dengan memberikan kasih sayang yang cukup pada anak.

    Membuat anak merasa disayangi merupakan salah satu cara terbaik bagi orangtua dalam
membangun munculnya rasa menyayangi orang lain. Anak yang disayang orangtuanya
cenderung akan menyayangi anak lain. Sebaliknya, anak yang ditolak akan bersikap agresif,
kurang mempunyai rasa sayang.

       Anak akan merasa dicintai jika melihat orangtua, guru, atau pendidik lainnya
merasa senang atas kehadirannya. Ketika dia masuk dalam ruangan disambut
dengan senyum bahkan anak akan merasa dicintai kalau kita peka terhadap kebutuhannya.
Seorang anak akan tahu bahwa dia dicintai jika kesuksesannya membuat kita bersuka dan
kegagalannya membuat kita berduka.

        Rasa sayang yang berlimpah dari orangtua secara otomatis membuat anak memahami
soal rasa itu. Anak juga merasakan bagaimana nyamannya disayangi dan menyayangi.
Jauhi sikap kekerasan dalam keluarga, karena ini juga berdampak terhadap sikap anak
nantinya. Kekerasan yang sering dilihatnya akan memengaruhinya dan mencontoh perbuatan
tersebut. Alhasil, anak pun susah menyayangi sesama. 


2.3 Bersikap Adil Dalam Memberikan Kasih Sayang

           Salah satu masalah penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah bersikap adil dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak Kasih sayang terhadap anak memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
           Kasih sayang akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. Semakin besar kasih sayang orang tua pada anak maka kegembiraan pada anak akan semakin besar pula dan menjadikan hati anak semakin peduli dan perhatian.
           Anak belajar kasih sayang dari orang tua kemudian anak akan menerapkan kasih sayang tersebut kepada orang lain. Anak yang tidak merasakan kasih sayang akan mendapatkan pengaruh negatif pada tubuh dan jiwanya serta akan bermasalah dalam mempelajari kasih sayang sehingga anak tidak mampu mencintai dan menyayangi orang lain di masa yang akan datang.
           Muncul rasa kepercayaan diri anak yang memiliki kepercayaan diri mampu memecahkan persoalan sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari orang lain. Motivasi dan tekad yang besar, anak akan berusaha mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.
            Kasih sayang akan memotivasi anak-anak untuk melakukan berbagai aktivitas dengan sukses. Di bidang pendidikan, anak akan menjadi orang yang cerdas dan terampil serta secara fisik anak akan tumbuh sehat.
          Kasih sayang mampu menarik simpati anak dengan demikian, anak akan mudah di didik dan diarahkan oleh orang tua. Anak menyukai orang yang penyayang dan memahami keinginannya. Orang seperti ini, anak dapat temukan pada pribadi kedua orang tua sehingga anak akan menuruti perintah kedua orang tuanya 
Orang tua dalam mencintai dan menyayangi anak-anak tidak dibenarkan untuk bersikap pilih kasih karena akan menyebabkan hilangnya kepercayaan anak-anak terhadap lingkungan keluarga sehingga anak-anak menjadi tidak betah untuk tinggal di rumah. Hal ini juga dapat menyebabkan hubungan antara orang tua dengan anak semakin jauh.
       Salah satu sikap orang tua yang sangat penting untuk selalu diterapkan adalah selalu
berlaku adil sebatas kemampampuan kepada anak-anaknya. Hal ini dikarenakan
ketidakadilan sangat beasr pengaruh buruknya terhadap pertumbuhan anak-anak.
     Anak-anak diharapkan akan patuh kepada orang tuanya yang selalu adil dan tidak pilih

kasih, dan orang tua lebih mudah mengatur mereka karena mereka semua merasa

diperhatikan dan disayang oleh orang tuanya. Berbeda dengan sikap tidak adil dan pilih

kasih, maka akan menimbulkan kecurigaan pada hati sebagian anak-anak terhadap orang

tuanya yang selalu memperhatikan salah satu anak kesayangannya dan mengabaikan yang

lain. Sebagai anak manusia, kadang dihinggapi rasa iri dan dengki, sehingga

membuat problem rumah tangga dan sedikit kesalahan orang tua yang terjadi akan menjadi

kesalahan yang besar di mata sang anak yang merasa dirinya tidak diperhatikan oleh orang

tuanya, kemudian dampak buruknya cepat atau lambat akan dirasakan oleh orang tua itu

sendiri.

        Di antara dampaknya, anak menjadi sulit diatur, wibawa orang tua hilang di mata
anaknya, dan pada akhirnya orang tua tidak bisa mendidik dan menyampaikan nasehatnya
kepada anaknya, dikarenakan mereka telah curiga dan berburuk sangka kepada orang tuanya.
Dampak Buruk Pilih Kasih Orang Tua Ttrhadap Anaknya
      Sebagaimana telah disebutkan, sikap pilih kasih orang tua kepada beberapa anaknya dampaknya sangat buruk dan pasti akan dirasakan oleh orang tua itu sendiri, dan bahkan akan membahayakan salah satu anak mereka yang dikasihi lebih dari yang lainnya.
      Berkata Syaikh Abdul Ghani an-Nablisi menjelaskan kepada kita tentang masalah ini, Pilih kasih orang tua terhadap anaknya akan menimbulkan permusuhan, kedengkian, dan kebencian di antara sesama anak-anak itu sendiri, kemudian akibat selanjutnya akan terjadilah pemutusan hubungan keluarga disebabkan oleh sikap pilih kasih orang tua mereka”.
   
       Dampak lain yang tak kalah buruknya, akan muncul dimasa mendatang generasi yang durhaka kepada orang tuanya dan generasi yang selalu menimbulkan permusuhan dengan saudara-saudara mereka sendiri.

Kasih Sayang Yang Berlebihan
    Sebagian ayah dan ibu karena saking sayangnya kepada anak-anak, mereka tidak mau memperbaiki karakter buruk anak-anaknya sendiri. Mereka membiarkan kenakalan anak-anaknya tanpa sedikit pun ditanggapi dengan sikap serius. Orangtua seperti ini tidak ingin memberi peringatan kepada anak-anak karena takut tersinggung. Semua orangtua harus mengekspresikan kasih sayang, tetapi jangan sampai tidak mendidiknya.  Orangtua yang baik adalah yang bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempatnya yang tepat.

     Semua orangtua sangat menyayangi anak-anak setulusnya, namun mereka juga harus sadar dengan realita anak-anaknya. Orangtua harus waspada dengan perilaku negatif anak-anak dan jangan mencampakkan perannya sebagai pendidik. Anak-anak tidak boleh kehilangan kasih sayang orangtuanya tapi juga jangan dibiarkan bebas begitu saja. Anak-anak harus menyadari bahwa karena kasih sayang orangtua ingin mendidik anak-anaknya.

     Kasih sayang orangtua memang penting tapi kalau terlalu berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Kasih sayang itu seperti air atau makanan kalau diberikan dengan ukuran yang tepat dan dengan jumlah yang tepat maka akan memberikan hasil yang maksimal, tapi kalau tidak demikian akan berubah menjadi sesuatu yang tidak baik. Kasih sayang yang terlalu berlebihan untuk anak-anak adalah pengkhianatan seorang ayah terhadap anaknya.

      Anak-anak itu bukan mainan orangtua, tapi ia adalah manusia yang masih kecil yang harus dididik untuk menyongsong masa depannya. Ayah dan ibu harus sadar bahwa suatu hari mereka akan lepas dari mereka. Anak-anak juga tidak selamanya anak-anak. Mereka akan tumbuh menjadi dewasa dan harus bergaul dalam kehidupan sosial. Hidup adalah seni yang sangat sulit. Dalam kehidupan itu seseorang akan mengalami hal-hal yang menyenangkan, menyedihkan, menyengsarakan dan membahagiakan

     Sebagai orangtua yang baik, mereka harus mempersiapkan sesuatu untuk masa depan anak-anak mereka. Mereka harus dididik supaya menjadi manusia yang tangguh di hari esok. Jangan membiarkan mereka menjadi anak-anak yang tidak berdaya, lemah dan selalu mengiba-iba uluran tangan orang lain

Akibat buruk dari kasih sayang yang berlebihan antara lain :
1. Lemahnya keyakinan dan ketawakalannya.
2. Anak menjadi seorang yang penakut, yang tidak punya keberanian.
3. Membunuh daya kreatifitas dan memupus kemampuan untuk mengadakan         pembaharuan.
4. Anak-anak yang selalu dimanjakan biasanya akan banyak mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya.
5. Anak-anak yang dibesarkan dalam asuhan seperti itu akan menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri, tidak berani mengambil resiko, tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang penting dan selalu mengharapkan uluran tangan orang lain.
6. Anak-anak itu tidak mau lagi mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang diterimanya. Orangtuanya telah memenuhi segala keinginannya, pujian dan segalanya menjadi gambaran semu dirinya. Si anak jadi kehilangan realitas tentang dirinya. Ia merasa sudah sempurna.
7. Anak-anak yang selalu dimanjakan dengan segala kesenangan dan segala keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtua mereka, kelak kalau sudah besar akan tumbuh menjadi manusia yang sombong, suka memaksakan kehendak.

2.4 Mengekspresikan Kasih Sayang

        Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Hasil dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka. Peran kasih sayang sangat penting dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh atau tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung besarnya kasih sayang yang diterima selama masa pendidikan.
         Manusia secara alami membutuhkan kasih sayang. Hanya kasih sayang yang mampu mengubah perilaku seseorang. Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam sistem pengajaran dan pendidikan anak-anak. Ketika seorang anak melihat ikatan kasih sayang pada kedua orang tuanya, maka hal tersebut dapat berpengaruh dalam menjauhkannya dari perbuatan tercela
          Anak-anak dan remaja lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan orang dewasa. Dalam dekapan kasih sayang, perasaan cinta dan kelembutan anak/remaja dapat berkembang dengan baik dan akan berubah menjadi manusia yang ideal. Seorang pendidik yang mengabaikan cinta dan kasih sayang, tidak akan mampu membangun hubungan yang baik dengan peserta didiknya dan pendidik pasti gagal dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada peserta didik.
          Metode yang paling berpengaruh dan efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih sayang. Rasa cinta dan kasih sayang harus terlebih dahulu menjadi jaminan ketenangan anak-anak di lingkungan keluarga sebelum berhadapan dengan berbagai aturan dan keputusan yang dibuat oleh orang tua. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa anak-anak akan terpenuhi jika sebuah keluarga dapat menjadi pusat ekspresi perasaan, kasih sayang, dan kecintaan.
Salah satu poin penting berkaitan dengan kasih sayang orang tua terhadap anak adalah hendaknya orang tua tidak hanya puas dengan memendam kasih sayang dalam batin karena kasih sayang hanya berpengaruh dalam pendidikan jika ditampakkan secara lahiriah, supaya anak-anak sadar dan mengetahuinya secara langsung.
          Orang tua yang cerdas adalah orang tua yang pandai mengekspresikan kasih sayangnya

secara tepat kepada anak-anaknya sehingga bisa dirasakan langsung oleh mereka.  

Anak merasakan bahwa orang tuanya menyukainya, peduli akan nasibnya, mengarahkannya

pada perkembangan dan penyempurnaan dan memperhatikan pendidikannya, maka anak

tersebut akan mencintai dan mengidolakan kedua orang tuanya


2.5 Peran Kasih Sayang Dalam Pendidikan


          Seorang pendidik harus melakukan berbagai peran dalam menjalankan suatu proses pendidikan, diantaranya:

1. Pendidik sebagai pembimbing, dengan kasih sayang yang diberikan oleh pendidik, peserta didik akan mendapatkan bimbingan untuk menjalani kehidupan yang sedang dialami sekarang maupun bekal kehidupan di masa yang akan datang. Berbagai kasus tidak sedikit ditemukan akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, pendidik ditempatkan sebagai tempat bertanya, mengadu, meminta pendapat, berkeluh kesah, dan berlindung.

2. Pendidik sebagai pembentuk kepribadian, tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri, bunuh diri atau kejahatan-kejahatan lainnya bisa dilakukan oleh seorang peserta didik akibat kehilangan kasih sayang dari orang tua atau siapa saja. Kata “siapa saja” mengindikasikan bahwa di samping orang tua ada pihak lain yang dapat menjadi penyebab hancurnya kepribadian seorang peserta didik. Pendidik yang baik akan memperhatikan hal ini sebagai bagian dari perannya dalam menjalankan proses pendidikan.

3. Pendidik sebagai tempat perlindungan, akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, banyak anak yang kabur dari rumah. Tindakan ini, anak akan mencari perlindungan kepada siapa saja yang dianggap dekat. Beruntung jika mereka mendapat tempat berlindung pada orang yang berlatar belakang baik, tetapi jika sebaliknya maka akan berakibat merusak masa depannya. Menyikapi kasus ini, jika seorang pendidik dapat memberikan kasih sayang maka ada kecenderungan anak untuk mencari perlindungan kepadanya. Pada kondisi ini, pendidik idealnya berlaku bijaksana, mendengarkan masalah yang dihadapi anak, memberikan nasehat dan sebisa mungkin menyadarkan tindakan yang dilakukan anak.

4. Pendidik sebagai figur teladan, dalam kehidupan keluarga, orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Tetapi kasih sayang saja tidak cukup untuk memenuhi tuntutan psikologis anak-anak. Kasih sayang harus terwujud melalui perilaku secara konkret. Kasih sayang yang terwujud melalui perilaku secara psikologis akan dapat dirasakan oleh anak dan dapat menjadi contoh atau tauladan. Seorang pendidik yang berperilaku ramah, hangat, dan selalu tersenyum, tidak memperlihatkan muka kesal, merespon pembicaraan peserta didik, dapat menumbuhkan kondisi psikologis yang menyenangkan bagi peserta didik. Peserta didik tidak takut berbicara, dapat mencurahkan isi hatinya saat menghadapi masalah dan peserta didik akan senang melibatkan diri dalam kegiatan di sekolah. Perilaku peserta didik yang terbentuk ini pada dasarnya merupakan hasil dari mencontoh atau mentauladani perilaku yang diperlihatkan pendidik 


5. Pendidik sebagai sumber pengetahuan, kasih sayang orang tua sampai kapan pun harus tetap ada karena anak-anak sangat membutuhkannya. Proses pendidikan yaitu adanya transformasi pengetahuan sikap memberi dan melarang seharusnya dilakukan dengan hati-hati terhadap peserta didik. Pengetahuan dapat merubah sikap dan perilaku peserta didik dapat berubah positif apabila pengetahuan yang diterima peserta didik sesuai dengan masanya dan sebaliknya apabila tidak sesuai maka akan membentuk perilaku peserta didik yang negatif. Seorang pendidik harus memahami bahwa dalam mentransfer pengetahuan harus didasari dengan kasih sayang.

            Ada beberapa hal yang mungkin terjadi apabila pendidik tidak hati-hati dalam mentransfer pengetahuan, diantaranya:
a. Dapat merusak jalinan kasih sayang di antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik akan mulai meragukan dan menganggap bahwa pendidik tidak dapat mengajar dengan baik.

b. Peserta didik akan belajar pada sumber lain dan apabila tidak dibimbing tidak menutup kemungkinan dapat menghasilkan perilaku yang tidak diharapkan.

c. Kurangnya bimbingan dari pendidik akan menumbuhkan perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan yang telah dilakukan oleh peserta didik sendiri.

2.6 Studi Kasus
      Kedisiplinan anak tidak lahir dari kekerasan". Begitulah bunyi judul sebuah tulisan yang
pernah ditulis Majalah Intisari edisi ekstra pada September 2013. Anak yang mendapat hukuman fisik ketika dewasa cenderung sering berpikir negatif dan agresif terhadap orang lain. Demikian sedikit fakta dari tulisan tersebut. Selaras dengan hal itu, sebuah penelitian terbaru menyatakan, anak-anak yang kekurangan kasih sayang orangtua berisiko menderita gangguan emosi dan menderita masalah kesehatan.

         Efek dari kurangnya kasih sayang orangtua timbul di seluruh sistem tubuh anak.
"Jika mengalami cinta dari sosok orangtua, anak lebih terlindungi dari risiko masalah kesehatan daripada anak yang tidak memiliki orangtua yang penuh kasih sayang di dalam hidup mereka," kata Judith E Carroll, peneliti di CousinsCenterfor Psychoneuroimmunology, di UCLA. Para peneliti mempelajari 756 orang dewasa yang telah berpartisipasi dalam studi yang disebut Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA). Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang rentan terhadap gangguan kesehatan.

             Peneliti melihat dari interaksi antara anak dan orangtua, apakah mereka pernah mengalami pelecehan atau sebaliknya, kasih sayang."Temuan kami menyoroti sejauh mana pengalaman-pengalaman anak usia dini berhubungan dengan bukti risiko masalah kesehatan meningkat di hampir semua sistem tubuh," kata Teresa Seeman, penulis senior di penelitian.
Temuan ini menunjukkan bahwa kehangatan dan kasih sayang orangtua melindungi anak dari stres dan gangguan kesehatan.
     

    Dari contoh kasus tersebut pengaruhnya terhadap anak dan sosialisasi lingkungannya 
sangatlah bahaya. Kurangnya kasih sayang dari orang tua, anak akan merasakan
seperti sendiri tidak ada yang perhatian dengannya. Anak tersebut akan merasa stress
karena kurangnya perhatian dari orang tua. Anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya
tidak akan mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, karena tidak adanya
pengajaran dari orang tua untuk melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar anak
tersebut. Lebih buruknya lagi dampak yang sangat berbahaya karena kurangnya pemberian
kasih sayang dari orang tua, anak akan merasakan sesuatu hal yang baru atau yang belum
pernah ia coba misalnya, bergaul dengan lingkungan yang salah, mencoba menggunakan
barang-barang haram seperti narkoba.
    
       Hal ini bisa terjadi pada anak karenanya kurang pengawasan dan pembelajaran dari
orang tua. Anak akan lebih mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk yang bisa
merusak masa depannya. Di Indonesia hal seperti ini bukanlah hal yang asing lagi di dengar
dalam pemberitaan. Sudah banyak sekali contohanak yang kurang akan kasih sayang dari
orang tuuanya yang menyebabkan rusaknya sifat dari anak-anak Indonesia.


    

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

         Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan kasih sayang. Jika seseorang ingin dicintai oleh orang lain maka harus menghidupkan perasaan kasih sayang dalam dirinya. Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara pemberi dan penerima kasih sayang. Misalnya, jika seseorang tidak mencintai atau memberi kasih sayang maka seseorang tersebut tidak akan mampu mengarahkan dan membimbingnya. Kasih sayang memiliki peran penting dalam lingkungan membangun hubungan interaksi yang harmonis antara sesama manusia

3.2 Penyelesaian Kasus Dengan Ilmu Budaya Dasar
        
         Kasus seperti ini dapat di selesaikan dengan Ilmu Budaya Dasar dengan materi kasih

sayang. Kurangnya kasih sayang orang tua kepada anaknya, maka timbul hal hal yang

buruk dalam diri anak. Sifat emosi, rasa ego yang tinggi dan seringnya terganggu dalam

masalah kesehatan, inilah akibat dari kurangnya kasih sayang orang tua untuk anaknya.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. 
       Orang tua adalah contoh atau bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, hal

ini dapat dilihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya.

Orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang dengan sebanyak-banyaknya sehingga

hubungan antara orang tua dan anak sangat baik dan harmonis, kasih sayang ini sangat

nampak sekali dan membuat suasana dalam keluarga menjadi terasa nyaman, tentram, terasa

kehidupan dan terjalin komunikasi yang baik antara si anak dan orang tua. Cara awal

yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan pengertian dan pembelajaran tentang

dasar dari kasih sayang. Seperti menjelaskan kepada mereka bahwa kasih sayang

itu adalah rasa peduli terhadap sesama. Pemberian kasih sayang yang secara tulus

dari orang tua, dipastikan anak akan merasa nyaman dalam kehidupannya. Mereka akan

terhindar dari berbagai macam hal yang tidak diinginkan oleh orang tuanya seperti sifat

emosi yang tinggi dan terganggunya kesehatan si anak.



DAFTAR PUSTAKA

* palembang.tribunnews.com/2013/10/16/anak-yang-kurang-kasih-sayang-cenderung-sakit-sakitan
balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=13&id=26130
mahalenapsikologi.blog.unissula.ac.id/2012/01/13/pengaruh-kesalahan-orangtua-mendidik-anak-  terhadap-perkembangan-perilaku-anak/